Hampir setiap malam aku menelpon keluargaku dikampung, dua atau tiga hari tidak ada kabar maka ketika menelpon aku sudah akan dibaku hantam dengan pertanyaan kenapa, mengapa, dan pernyataan-pernyataan kekhawatiran ibu yang berlebihan. Aku menyadari kewajibanku sebagai perempuan rantau yang masih sendiri nan jauh dari keluarga adalah memberi kabar, secara otomatis keluargaku akan merasakan cemas jika telepon tidak juga berdering atas namaku pada layar handphonenya.

Malam selasa, aku menelepon keluarga dikampung seperti biasa, adeku tak cukup lama ia menyerahkan handphonenya kepada ibu, karena jika menelepon kampung akan lebih banyak berbicara dengan ibu dibandingkan dengan yang lainnya.

Setelah menanyakan soal makan apa hari ini ibu membuka percakapan dengan menginformasikan keadaan temanku yang kabarnya tak bisa lagi mempertahankan keutuhan rumah tangganya, ada perasaan menyayangkan keadaan itu, ibu seperti orang tua temanku juga tentu adalah bagian dari orangtua-orangtua yang tidak pernah sedikitpun menginginkan kegagalan rumah tangga pada anaknya. Tapi setelah berumahtangga bukankah orangtua hanya mampu memberikan nasihat dan tidak lantas memutuskan, keputusan-keputusan tetap akan diambil oleh empunya rumah tangga itu sendiri.

Adiku yang barangkali sedang disebelah ibu langsung menyela "Tuhkan, makanya"

Aku tertawa mendengar kalimatnya karena mafhum apa yang dikatakan.

"Makanya nda usah nyuruh aku cepet-cepet nikah bu, pernikahan walaubagaimanapun tetap membutuhkan fondasi yang kuat, ya jangan asal cepet, kalau cepet-cepet ujungnya cerai juga kan ya gimana " kataku mencoba mengeles perihal nikah kepada ibu.

"Nah iya betul itu, betul" adiku menimpali, halaaaah sebenernya dia satu kubu denganku juga ada maunya, sebab kalau aku sudah nikah tentu tidak bisa mendapatkan apa-apa lagi, apa-apa yang dia minta kepadaku pasti akan dilarang oleh ibu. hahahaha ini pasti benar.

"Yaiya sih bener, tapikan namanya juga orang tua, kan kadang gimana gitu kalau ditanya eh itu perawannya pacarnya orangmana ? nikahnya kapan ? dan lainnya. kan ibu bingung jawabnya. paling ibu cuma bisa jawab ya nanti ada waktunya" kata ibu 

"Yowis bu pertanyaan orang mah tidak usah terlalu didenger, nanti kalau udah waktunya nikah ya aku nikah, aku gak mau nikah cuma asal nikah lantas gak punya tujuan pernikahan, kalau mentalnya belum siap menikah tapi memaksakan menikah itu akan rawan. belum lagi sekarang internet dan sosial media begitu bergerak cepat, tersenggol sedikit udahlah rusak rumah tangganya gara-gara menemukan kenyamanan lain dengan orang lain disosial media" jawabku mengeles lagi soal pernikahan kepada ibu, hehe

"Iya sih, kemaren juga sianu cerai gara-gara seneng-senengan di facebook, padahal suaminya udah mapan" kata ibu

"Nahkan" sambutku

"Ya tapikan kamu itu udah mau lulus nih besok, terus juga udah kerja, terus katanya mau main dulu kan kemaren-kemaren udah tuh main-main, lah terus mau ngapain lagi, ibu kan yang dirumah jadi ibu yang ditanyain sama tetangga"

Aku mengerti, barangkali memang ibu sudah menginginkan anaknya lebih settle, melihat usia anaknya ini sudah tidak muda lagi, teman-teman sebayaku dikampung hampir semua sudah menikah, beberapa yang lainnya bahkan sudah mempunyai anak, sebagai seorang anak yang terus mencoba mengerti perasaan orang tuanya saya cukup mengerti apa-apa yang dirasakan ibu.

bersabar bu, anak perempuanmu ini cukup baik-baik saja meski masih sendiri, tidak kekurangan suatu apapun termasuk kasih sayang, tapi barangkali memang belum berani memilih, belum berani memulai apa yang pernah diruntuhkan, meski sudah sedikit bugar hatinya masih belum tertata, entah milik siapa.

bersabar bu, nanti kuajak laki-laki istimewa itu bertemu dan mencium tanganmu, aku yakin ia yang kubawa pulang tidak lagi mengecewakanmu dan menyakiti anak perempuanmu ini bu. 

Do'akan saja bu.
















Selamat pagi menjelang siang, uuuh rasanya udah lama sekali enggak buka blog ini. 

"Ada yang tak dapat dituliskan dan diceritakan, cukup dirasakan dengan kemalasan bahwa hidup akan terus bergulir, setidak-tidak maunya kamu menjalani kehidupan itu sendiri"

Satu-satunya teman bercerita selain Tuhan adalah blog ini. Maka ketika aku lama tidak menulis disini berarti aku sedang tidak percaya siapapun termasuk diriku sendiri. Aku tidak seyakin itu bisa membaca ulang tulisan-tulisanku yang tentu akan bercerita lebih banyak soal ironi, hih gundah sekali. Tapi kebenaran dari kenapa tidak menulis sebenar-benarnya selain karena aku tidak pandai bercerita adalah karena aku males. Iya males.

Males akutuuuu. sama kaya malesnya mencintai kamu, tapi tetep pengin nyintain kamu yang adalah sama dengan pangkat dua dari menyakiti diri sendiri, hahaha....

Ini hari selasa ketika aku menulis ini, hari kelahiranku juga hari selasa, FYI aja sih, kwkwk
Kok gampang banget ya nulis hahaha, kwkwkkw, padahal hati sedang gak karuan begini, memang kekuatan dari papan keyboard dan jari jemari tidak ada tandingannya. Aku jadi inget udah berapa lama enggak tes kemampuan mengetik. nih disini yang mau link tes mengetik. Aku biasa tes disitu sembari memperlancar dan mempercepat kemampuan mengetik sepuluh jari. Ya Alhamdulillah ya udah pacaran sama PC sejak SMP jadi kalo ngetik tatap-tatapannya sama monitor bukan sama keyboard. #Tatapansamadianyakapan

Btw, hidupku masih monoton, gitu-gitu aja, gitu-gitu bae. Tapi tetep disyukuri. Resolusi tahun 2019 sampai pertengahan tahun ini sudah ada gambaran satu persatu akan terpenuhi : Lulus (√), Pasang behel (√), Ke-Dieng Lagi (Ags), Ke Yogya (Apr), yang pastinya dari jerih payah kerja setiap hari sebagai budak korporat ya, Alhamdulillah tanpa sepeserpun meminta asupan dari PakBu'e tapi setengah tahunnya lagi aku masih gak kepikiran mau ngapain, apa nikah aja ya ? tapi sama siapa dong ? tapi budget tabungan nikah belum ada, terus apa dong ? "Tanpa direncakanpun hidup akan terus bergulir" Yowis tumasrah wae maring gusti Alloh.



Minggu pagi, saya dan seorang teman sudah dijemput oleh teman lainnya distasiun Tangerang. Rencananya hari itu kami bersama-sama ingin berkunjung kerumah sakit siloam karawaci, kebetulan saudara kita ada yang tengah berbaring sakit disana. Baru masuk mobil, saya langsung ditodong pertanyaan-pertanyaan perihal pasangan, perihal seseorang yang "katanya" bisa diajak bekerjasama dalam rangka membangun rumah tangga.

hmmm, minggu pagi itu air mata tumpah bersamaan cerita-cerita yang ditarik-tarik jarum jam. aku tidak bisa menahan air mata untuk keluar. membicarakan perihal pasangan menyebabkan kemunculan rasa takut yang luar biasa. entah kenapa.

Rasa takut itu selalu muncul selama bertahun-tahun. Oleh karena itu sekarang untuk memilih pasangan aku harus lebih berfikir panjang. Seperti petuah iklan minyak kayu putih " Buat hati kok coba-coba "

dari www.piknikdong.com

Barangkali nanti, entah siapa atau entah salah satu dari mereka harus kupilih, bukan karena apa-apa namun lebih karena ia mampu membuatku untuk tak merasakan ketakutan itu lagi, karena ia mampu membuatku percaya bahwa ia yang terbaik yang Tuhan kirimkan untuk menyembuhkan, untuk membuatku damai untuk menemani perjalanan-perjalanan panjang.

Kubilang kenapa menjadi dewasa itu gak enaaaa, sebab banyak hal yang perlu kamu pikirkan, kehidupan, pekerjaan dan perasaan bercampur-campur diotak yang cuma satu itu.heu...

29/08/2018



Perkara meniqa, haruskah selalu aku mencintaimu dan kamu mencintaiku ? apakah cinta menjamin semua kehidupan berjalan mulus ? 

(Juni, 2018)
Gamang sekali rasanya harus mulai menjalani usia ke-23 ini. Bukan karena aku tak percaya diri, saat sisi lain kehidupan memberiku begitu banyak pe-er yang harus kukerjakan, satu sisinya lagi memperingatkanku bahwa aku sudah mulai dewasa dan menua, itu artinya aku perlu meniqa. halaaah aku ingin tertawa sekaligus menangis menikmatinya. 

Lebaran idul fitri kemarin, yang 5 hari menjelang ulang tahunku itu, aku banyak sekali menerima undangan pernikahan. tidak apa, aku memang sudah menyiapkan mental sejak jauh-jauh hari, sebelum pulang ke kampung halaman, aku hanya banyak tersenyum dan meminta do'a, perihal meniqa nanti semua akan mendapat gilirannya.

Kamu tidak usah berandai-andai jadi aku, menerka-nerka kenapa betah berlama-lama sendiri, jangan !!!!
kamu tidak akan tahu, aku tidak tahu, bagaimana memulai hubungan yang baru, bagaimana rasanya jatuh cinta, aku lupa.

Tapi, aku juga sama, aku ingin seperti mereka yang meniqa lalu bahagia, tapi nyatanya pernikahan tidaklah sedatar itu, perjalanannya terlalu rumit.

Novi temanku, berkunjung ketika aku dirumah seusai lebaran, ia menceritakan betapa kehidupan seusai pernikahan tidak pernah tergambarkan dalam benaknya sebelumnya, perbedaan satu, perbedaan dua, dan perbedaan lainnya datang bertubi-tubi silih berganti.

Ia menceritakan bahwa kehidupan setelah meniqa lebih membutuhkan kekuatan mental, kesabaran, dan kedewasaan. meniqa terburu-buru tanpa persiapan mental dan materi yang matang tidaklah dibenarkan, aku jadi berfikir, maka tidak selalu yang bisa meniqa dan pamer foto niqa yang bahagia itu setelahnya akan selalu bahagia, ya toh, tapi jika mental dan materi cukup kehidupan setelahnya-pun tidak akan terlalu begitu sulit.






"22 Mei 2018, Puisi yang dikirimkan seorang sahabat nun jauh dipangkalan bun, sebut saja namanya SETYA, mudah-mudahan dia adalah orang yang senantiasa setia kepada Tuhan, orang tua dan alam.aamiin. Terimakasih Kak."
 
Yang mencarimu seperti elang
Adalah aku. Berhari-hari selalu kutemukan
Sepasang tanya yang berlawanan, yaitu
Usiaku lenyap? ataukah
Menemukanmu suatu saat? dan
Itu tidak pernah terjawab.

Ceri, kuingat buah kesukaanmu itu
Uh, seribu pohon ceri dan aku belum
Menemukanmu? terasa hancur, seperti
Elegi, menebar ancam kepadaku. Dan untuk
Yang kukasihi.... kamu.




 


sourch : google.com

Ada yang suka hadiah ? Oh... Aku tidak, tidak salah lagi aku sangat suka hadiah. hadiah bagaimana bentuknya selalu terasa menyenangkan, bahkan mendengar kata hadiah selalu membuat bahagia. Hadiah memang identik dengan segala hal yang membuat hati bahagia, tapi bagaimana jika tiba-tiba kamu ditelpon pacarmu dan meminta putus, apakah itu hadiah ? bukan, itu kejutan. Hadiah selalu bisa membuat orang terkejut tapi kejutan tidak selalu membuat penerimanya sebahagia menerima hadiah. hey bukannya hadiah dan kejutan sama saja ? katamu,  “hey bukannya setiap orang bisa mendefinisikan sesuatu berbeda-beda sesuai pemikirannya” jawabku. Hahaha...  #OgahKalah

Aku bukan artis yang bisa setiap hari dapat hadiah dari fans-fansnya, tapi aku punya kebiasaan unik, menghadiahi diri sendiri. –Iya apa salahnya menghadiahi diri sendiri ? tidak merugikan, tapi terkadang menguras isi dompet.

Dua hal yang sering kulakukan untuk menghadiahi diri sendiri adalah berkunjung ke toko buku dan mesjid. Aku suka toko buku, disana aku bisa membaca ratusan judul buku (judulnya aja dulu) yang rasanya ingin kusiapkan wadah dan kukarungi buku-buku kemudian kubawa lari, rasanya aku ingin merampok toko buku, disana aku bisa mencium aroma-aroma buku, sepertinya lebih wangi dari wangi cowok-cowok melankolis yang tinggi-tinggi itu.

Hari ini aku ke toko buku, kunjungan kedua untuk bulan maret ini, Gramedia Gajah mada sekitar tujuh menit dari tempat kerjaku jika menggunakan ojek. Sebenarnya aku tidak punya tujuan yang jelas ingin membeli buku apa, maka ketika ditanya ngapain ke gramedia aku menjawab “Cuci Mata” .

Berkeliling-keliling dari lantai satu ke lantai dua, dari lantai dua ke lantai satu lagi, membaca deskripsi buku-buku, review-review buku yang berada dicover belakangnya, bertahan satu jam, dua jam, mentok-mentok satu atau dua buku saja yang kukantongi, hahaha.... setidaknya aku sudah menghadiahi diri sendiri. Jangan tanya aku sudah membaca apa saja, hussstttt aku hanya suka toko buku, kalau bukunya asik kubaca sampai tuntas, jika tidak paling hanya separuh. Maafkaaaan....

Gramedia Gajah Mada itu letaknya berdekatan dengan pos kota, gangnya namanya jl. Kebahagiaan setalah selesai ke gramedia kamu bisa berjalan sekitar 100 meter ke jl. Kebahagiaan disana kamu akan menemukan Mesjid Jami Al Mubarak (btw nama jalannya kok bisa pas gitu sama hadiah dan kebahagiaan ya). Mampir-mampirlah kalau kesana, sama seperti mesjid pada umumnya bisa menghadiahi ketenangan untuk hatimu. Setelah ke gramedia saya biasa melangsungkan sholat magrib disana, jika tak terburu-buru atau sedang malas pulang (maklum anak kosan) atau juga sedang butuh banyak energi positif dan ketenangan saya suka berlama-lama disana, sampai selesai isya.

Berbicara mesjid sepertinya kamu juga perlu mengunjungi Mesjid Cut Meutia di Menteng, kalau kesana coba deh lihat desain bangunannya, ketika berada didalam mesjid tengoklah keatas, pemandangan yang unik akan kamu temukan, sebab sejarahnya Mesjid tersebut dulunya adalah sebuah kantor Pos dan Kantor Kereta Api, selain itu kalau ke Banten singgahlah sebentar di Mesjid Agung Banten, aku selalu bahagia kalau kesana, selain energi positifnya dapet banget kalau disana kamu akan merasakan sensasi dimana kamu terlalu angkuh sebagai manusia jika tidak mau berdo’a, pokoknya greget deh kalau kesana, kalau kesana jangan lupa mengunjungi dan berdo’a dimakam Sultan Maulana Hasanuddin dan lainnya yah. Ajak aku juga boleh. Kalian punya referensi Mesjid lain ? share yuk....

Sebenarnya menghadiahi diri sendiri memang tidak rumit, sebab kamu mengerti apa yang membuat dirimu bahagia, maka barangkali kamu perlu sekali dua kali menghadiahi diri sendiri, atau lebih keren lagi jika kamu membeli hadiah sesuatu yang kamu inginkan, bungkuslah, kemudian buka sendiri, tidak ada yang salah, why not ? Aneh ?

Kebahagiaan memang terkadang aneh bukan ?

Itu salah dua caraku menghadiahi diri sendiri, kamu sudah menghadiahi dirimu sendiri belum ???